Perjanjian Damai Antartika Baru Cegah Perang Dunia Ketiga
Dunia akhirnya bisa bernapas lega pagi ini. Jarum Jam Kiamat (Doomsday Clock) yang sempat menyentuh angka 10 detik menuju tengah malam, kini dimundurkan kembali. Di Jenewa, Swiss, para pemimpin negara adidaya termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan Uni Eropa, akhirnya mencapai kata sepakat. Mereka secara resmi menandatangani Perjanjian Damai Antartika Baru (New Antarctic Accord). Penandatanganan los303 ini mengakhiri ketegangan militer selama enam bulan terakhir yang nyaris memicu Perang Dunia Ketiga di Kutub Selatan.
Krisis ini bermula ketika lapisan es di Antartika Barat mencair lebih cepat dari prediksi akibat pemanasan global. Seketika, pencairan tersebut menyingkap deposit mineral raksasa yang belum pernah tersentuh. Survei geologi menunjukkan adanya cadangan logam tanah jarang (rare earth elements) terbesar di dunia, termasuk Neodymium dan Lithium. Logam-logam ini adalah bahan baku vital untuk baterai fusi dan komputer kuantum. Oleh karena itu, siapa yang menguasai Antartika, akan menguasai ekonomi masa depan.
Akibatnya, perlombaan senjata terjadi. Kapal perusak dan kapal selam nuklir mulai berpatroli di Samudra Selatan. Klaim wilayah tumpang tindih memicu insiden penembakan peringatan dua minggu lalu. Namun, diplomasi akhirnya menang di menit-menit terakhir. Perjanjian Damai Antartika Baru ini menggantikan Traktat Antartika 1959 yang dianggap sudah usang dan tidak relevan lagi dengan realitas kelangkaan sumber daya saat ini.
Isi Kesepakatan yang Kontroversial
Meskipun disebut “perjanjian damai”, isi dokumen setebal 500 halaman tersebut sangat pragmatis dan sedikit menyedihkan bagi para pecinta lingkungan. Perjanjian Damai Antartika Baru ini secara efektif mengakhiri status Antartika sebagai cagar alam murni. Sebaliknya, benua putih tersebut kini dibagi menjadi zona-zona ekonomi khusus (Exclusive Mining Zones).
Pertama, zona pesisir yang kaya mineral dibagi secara proporsional kepada konsorsium negara-negara teknologi maju. Kedua, sebagai kompensasi, pajak penambangan yang sangat tinggi (sebesar 40 persen) akan ditarik oleh PBB. Dana pajak ini akan digunakan sepenuhnya untuk membiayai teknologi penangkap karbon atmosfer dan reboisasi di negara-negara tropis.
Sekretaris Jenderal PBB menyebut ini sebagai “Kompromi Setan yang Perlu”. “Kita dihadapkan pada pilihan sulit. Entah kita berperang memperebutkan sumber daya dan menghancurkan dunia dengan nuklir, atau kita membagi sumber daya tersebut secara teratur untuk mendanai penyelamatan iklim di tempat lain. Akhirnya, kami memilih opsi kedua,” pidatonya dengan wajah muram.
Ironi Penambangan Hijau
Poin paling ironis dari Perjanjian Damai Antartika Baru adalah tujuannya. Dunia membutuhkan logam-logam tersebut justru untuk membangun teknologi hijau. Turbin angin, mobil terbang listrik, dan reaktor fusi membutuhkan material yang terkubur di bawah es tersebut. Jadi, kita harus merusak sebagian lingkungan Antartika untuk menyelamatkan sisa lingkungan bumi lainnya.
Perusahaan tambang yang mendapatkan konsesi, seperti “Polar Mining Corp”, berjanji akan menggunakan metode penambangan “Bedah Lubang Jarum” (Keyhole Surgery Mining). Artinya, mereka tidak akan membuka tambang terbuka yang merusak pemandangan. Melainkan, mereka akan menggunakan robot cacing otonom yang mengebor ke bawah es, mengambil mineral, dan menutup kembali lubangnya tanpa meninggalkan jejak di permukaan salju.
Meskipun demikian, para ilmuwan iklim tetap skeptis. Aktivitas industri di kutub pasti akan menghasilkan panas dan polusi lokal. Hal ini dikhawatirkan akan mempercepat runtuhnya Gletser Thwaites (Gletser Kiamat) yang sudah tidak stabil. Jika gletser ini runtuh, permukaan laut global bisa naik tiga meter dalam waktu singkat. Risiko ini dianggap sebagai perjudian terbesar dalam sejarah manusia.
Reaksi Global yang Terbelah
Reaksi masyarakat dunia terhadap Perjanjian Damai Antartika Baru sangat terpolarisasi. Di pasar saham Wall Street dan Shanghai, indeks meroket naik. Investor senang karena pasokan bahan baku teknologi kini terjamin aman untuk 50 tahun ke depan. Harga baterai dan elektronik diprediksi akan turun drastis.
Sebaliknya, aktivis lingkungan melancarkan protes global. Di depan markas PBB, Greta Thunberg (yang kini berusia 23 tahun) memimpin demonstrasi. “Kalian menjual satu-satunya tempat suci terakhir di bumi demi keuntungan. Ini bukan perjanjian damai, ini adalah surat kematian bagi penguin dan es abadi,” teriaknya dalam orasi.
Negara-negara kepulauan kecil juga merasa dikhianati. Mereka adalah yang paling terancam oleh kenaikan air laut, namun suara mereka tenggelam oleh kepentingan negara-negara adidaya industri. Namun, klausul dana pajak global dalam perjanjian tersebut menjanjikan pembangunan tembok laut raksasa untuk melindungi negara-negara tersebut. Apakah janji itu akan ditepati? Sejarah mengajarkan kita untuk ragu.
Masa Depan Benua Putih
Dengan ditandatanganinya dokumen ini, armada militer mulai menarik diri dari perairan kutub. Sebagai gantinya, armada kapal riset dan kapal survei tambang mulai berdatangan. Bendera-bendera perusahaan multinasional kini berkibar berdampingan dengan bendera negara di stasiun penelitian.
Antartika tidak lagi sunyi. Suara angin badai kini bercampur dengan dengungan mesin bor otonom di kejauhan. Perjanjian Damai Antartika Baru memang berhasil mencegah perang nuklir hari ini. Akan tetapi, ia membuka babak baru eksploitasi yang konsekuensinya belum kita pahami sepenuhnya.
Kesimpulannya, manusia sekali lagi membuktikan sifat dasarnya. Kita mampu berdiplomasi untuk menghindari kehancuran total, namun kita sulit menahan nafsu untuk mengonsumsi bumi sampai tetes terakhir. Akhirnya, Antartika telah jatuh. Ia bukan lagi benua tak bertuan milik ilmu pengetahuan, melainkan aset di neraca keuangan dunia.
