Operasi gabungan kepolisian internasional mencatatkan kemenangan besar hari ini. Interpol, bekerja sama dengan kepolisian dari lima negara, berhasil membongkar markas sindikat Penipuan Suara AI terbesar di dunia. Penggerebekan dilakukan serentak di sebuah kompleks perkantoran mewah di kawasan Asia Tenggara. Akibatnya, lebih dari dua ratus tersangka berhasil diamankan beserta ribuan perangkat komputer canggih.
Sindikat alexa99 ini dikenal sangat licin dan berbahaya. Mereka menggunakan teknologi deepfake audio untuk meniru suara orang-orang terdekat korban. Misalnya, mereka meniru suara anak, cucu, atau atasan di kantor. Tingkat kemiripan suara hasil Penipuan Suara AI ini mencapai 99 persen. Oleh karena itu, korban sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang berbicara dengan mesin, bukan manusia asli.
Sekretaris Jenderal Interpol menyatakan bahwa ini adalah kasus kejahatan siber paling kompleks tahun ini. Kerugian total yang diderita para korban di seluruh dunia diperkirakan mencapai tiga miliar dolar AS. Selain itu, sindikat ini beroperasi dengan struktur organisasi yang sangat rapi. Mereka memiliki divisi khusus untuk riset data calon korban, divisi teknis AI, dan divisi pencucian uang kripto.
Modus Operandi Penipuan Suara AI
Cara kerja mereka sangat mengerikan namun canggih. Pertama, pelaku mengumpulkan sampel suara target dari media sosial. Video pendek di TikTok atau Instagram Story sudah cukup bagi AI untuk mempelajari pola suara seseorang. Selanjutnya, perangkat lunak mereka akan membuat kloning suara tersebut secara real-time. Pelaku kemudian menelepon keluarga target dengan skenario darurat.
Skenario yang paling sering digunakan adalah kecelakaan atau penculikan palsu. Suara “anak” yang menangis minta tolong terdengar sangat nyata di telinga orang tua. Akibatnya, kepanikan melanda korban. Dalam kondisi panik inilah pelaku meminta transfer uang tebusan segera. Biasanya, mereka meminta pembayaran dalam bentuk aset kripto agar sulit dilacak oleh bank.
Kasus Penipuan Suara AI ini juga menyasar sektor korporasi. Beberapa CEO perusahaan multinasional pernah menjadi korban. Pelaku meniru suara direktur keuangan dan memerintahkan transfer dana mendesak ke rekening asing. Sayangnya, banyak staf yang tertipu karena gaya bicara dan intonasi suara bos mereka ditiru dengan sempurna.
Dampak Hukum dan Pencegahan
Penangkapan ini menjadi peringatan keras bagi pelaku kejahatan siber lainnya. Barang bukti digital yang disita kini sedang dianalisis oleh tim forensik. Nantinya, data ini akan digunakan untuk melacak jaringan pendukung mereka di Eropa dan Amerika. Para tersangka diancam dengan hukuman penjara maksimal dua puluh tahun atas tuduhan penipuan terorganisir dan pencucian uang.
Namun, tantangan belum berakhir. Teknologi open-source untuk kloning suara kini makin mudah diakses publik. Oleh sebab itu, Interpol mendesak perusahaan teknologi untuk memperketat aturan. Mereka meminta adanya “watermark” atau penanda digital pada setiap audio yang dihasilkan oleh AI. Hal ini penting agar masyarakat bisa membedakan suara asli dan palsu.
Masyarakat diimbau untuk lebih waspada. Jangan mudah percaya pada panggilan telepon dari nomor tidak dikenal. Terutama, jika penelepon meminta uang dengan nada mendesak. Verifikasi adalah kunci utama. Cobalah untuk mematikan telepon dan menghubungi balik nomor pribadi orang yang bersangkutan. Selain itu, membuat “kata sandi keluarga” yang hanya diketahui orang rumah bisa menjadi benteng pertahanan efektif melawan Penipuan Suara AI.
